Rabu, 26 Desember 2007

KETIDURAN



Qul-Crew

Ini cerita yang undercover banget harusnya hehe…tapi no problemlah untuk dibagi, siapa tau bukunya jadi laku keras (maunya redaksi tuh…..)

Waktu kejadiannya belum lama, bulan Agustus kemarin. Ceritanya salah satu crew redaksi ditemani fotografer senior Qultum menjalankan misi pemotretan ke Jogja. Pemotretan untuk buku bros seri yang ke dua. Misi dijalankan selama dua hari. Hari yang pertama untuk motret buku Aneka Kreasi Flanel, hari ke dua baru deh jalan ke rumah Mbak Eis untuk motret buku brosnya.

Pagi-pagi kami dah nongol di rumahnya. Setelah menyesap teh manis anget dan kue-kue yang tersaji maka pemotretan pun dimulai. Repotnya, untuk buku yang kedua ini Mbak Eis menerapkan ilmu “Kira-kira” dalam membuat setiap bros yang akan di potret. Walhasil, proses pemotretan harus mengikuti pula proses yang sedang terjadi dalam alam pikiran si Mbak ini. Tapi, yah namanya juga sudah expert, walaupun bros dibuat secara spontan tetap saja hasilnya cantik dan oke bgt.

Menjelang jam lima sore, ternyata item yang harus dipotret masih banyak…padahal mas juru potretnya harus ngejar kereta senja jam delapan malam. Semakin sore, keletihan semakin terasa, dan tiba-tiba saja si crew redaksi and tukang potretnya kompakan ketiduran! Malu-maluin banget yah….posisinya gimana? Sang juru potret mendelosor begitu saja di karpet ruang tamu, dan crew redaksinya ketiduran sambil bersandar di ruang tengah tempat segala keributan pemotretan berlangsung dari pagi.

Tenang…ketidurannya gak lama kok, Cuma 10 menitan hehe…itu juga karena nunggu sang maestro meracik bagian bros yang agak sedikit rumit.

Menjelang jam 7 akhirnya pemotretan isi dan cover selesai sudah….(makasih ya buat salah satu parmuniaga toko sepatu kenalan si Mbak yang bersedia dibajak jadi model…). Lega sekaligus puas…hasilnya oke punya deh….

Sabtu, 15 Desember 2007

BERIMAN SEJENAK



Dr. Sa’id Abdul Azhim

Sesungguhnya, hari itu terbagi menjadi tiga, yaitu

(1) hari kemarin, ia adalah ibarat orang yang bijaksana dan terpelajar yang telah meninggalkan ilmunya dan mewariskannya kepadamu;

(2) hari sekarang, ia adalah ibarat orang yang jujur dan telah diamanati untuk menyampaikan sesuatu kepadamu. Tadinya, ia berada jauh darimu, kemudian ia mendatangimu, tetapi sayangnya kamu tidak mau mendatanginya, hingga akhirnya ia pun pergi meninggalkanmu dengan cepat;

(3) dan hari esok di mana kamu tidak mengetahui apakah kamu masih dapat bertemu dengannya ataukah tidak.

Jika sesuatu yang tersembunyi dalam hati sama dengan apa yang terlihat, hal itu merupakan sebuah keadilan. Jika apa yang tersembunyi dalam hal lebih baik daripada apa yang terlihat, hal itu merupakan sebuah keutamaan. Akan tetapi, jika yang terlihat itu lebih baik daripada yang tersembunyi dalam hati, hal itu merupakan sebuah kezhaliman.

Kadangkala, kita masih juga merasakan aura kehampaan jiwa di tengah riuhnya kehidupan kita. Kehilangan kesejatian diri di tengah persaingan identitas di ruang kerja kita. Kehilangan sandaran hati di tengah pertarungan berjenis manusia dengan egosentrisnya masing-masing. Hidup terasa menekan dan menyesakkan. Padahal harusnya ia menjadi rahmat dan barakah.

Berimanlah kembali, sejenak saja.

MENGEJAR MBAK-MBAK



`qul-crew`

Ini bukan cerita tandingan film “Mengejar Mas-mas”-nya Dina Olivia lho….ini cerita tentang kejar-mengejar antara para penerbit dengan penulis potensial yang menawarkan naskahnya di milis-milis perbukuan dan penulisan.

Ternyata, sekarang para penulis (biasanya pemula) mulai menggunakan media cyber untuk menawarkan naskah-naskah yang dimilikinya. Caranya gimana? Dengan bergabung di berbagai milis perbukuan dan penulisan yang marak merebak di Indonesia. Biasanya, milister yang join di milis itu berasal dari kalangan penerbit, pengelola toko buku, pecinta buku, dan penulis. Di milis pasarbuku, misalnya, kamu akan sering menjumpai beragam postingan seputar dunia buku. Mulai dari info buku terbaru, penawaran naskah, lowongan pekerjaan di dunia buku, diskusi seputar perkembangan perbukuan, sampai jualan koleksi buku bekas.

Nah, pada suatu hari…ada seorang mbak-mbak yang menawarkan naskah yang telah selesai disusunnya, tentang keterampilan membuat bros dari manik-manik. Radar di ruang redaksi langsung menyala, tanda kalau buku ini punya prospek pasar yang bagus (hehe, gak ding, yang ini terlalu berlebihan emang…). Apalagi si Mbak ini ternyata juga salah satu moderator di milis Bunda in Biz yang dikenal sebagai milisnya para momtrepeneur. Akhirnya, saat itu juga salah seorang kru redaksi mengirimkan semacam surat ketertarikan via japri ke alamat email si Mbak. Merasa kurang mantap, sore harinya si kru redaksi tadi juga melakukan hubungan langsung via telepon. Cerita punya cerita, di hari itu juga ternyata si Mbak juga mendapat tawaran yang sama dari beberapa penerbit yang lain.

Alhamdulillah akhirnya si Mbak lebih memilih QultumMedia sebagai tempat melabuhkan pilihannya (ciee…), dan mulailah proses pra-produksi dimulai. Sampai akhirnya buku itu terbit dan mendapat apresiasi yang begitu positif. Alhamdulillah juga buku bros seri ke dua juga baru saja diterbitkan, doain laris manis bak kacang goreng yah…

C-57/15-12-07

Kamis, 13 Desember 2007

Ngedesain Cover=Pusing



‘David Chrismansyah’

Diantara semua crew qultum, mungkin saya lah yg paling beda… terlihat acak2an, cuek, aneh, bisa dibilang orang yang ga cocok masuk qultummedia yang notaben nya Islam ^^ hehehe... ya iyalah… dengan ilmu agama yang pas-pas-an dibanding crew yang lain, saya terlihat beda… trus masih tergolong orang yang masih bolong-bolong sholatnya… baca Al-Qur’an juga masih sendat2… hehehehe… trus tergolong orang yang agak takut klo dekat sama wanita berjilbab panjang (yang biasa disebut AKHWAT). Why? Awalnya saya punya pengalaman sangat buruk sewaktu SMA dan membuat saya jadi TRAUMA, dan itu bukan yg pertama dan terakhir, setelah kejadian itu saya juga pernah beberapa kali dapat masalah besar gara2 AKHWAT. ^^v PEACE yah mbak2 AKHWAT…

Dari nama saya “David Chrismansyah”, ga sedikit orang (bahkan 99%), meng-claim saya beragama Nasrani… Udah biasa dan wajar menurut saya… Yah……. Mau gimana lagi? J nama depan diberikan kakek saya sebelum meninggal dan juga pada saat saya masih didalam rahim… nama belakang diberikan oleh Mama saya… *lho kok bukan Bapaknya??? ^^v PEACE…… Saya terlahir single Parent tanpa Ayah karena bercerai. Sampai sekarang saya juga masih belum tau seperti apa ayah saya… ^^ hehehehe… Ntah seperti apa kronologisnya kenapa bisa ampe kaya gini? Saya mah masa bodo’ (kaya sinetron ^^)…

Salah satu editor yaitu Mbak Tri, juga meng-claim saya bahwa saya orang beragama Nasrani… Maklum, waktu itu Mbak Tri masih karyawan baru. Awalnya sih biasa aja, toh saya da sering bgt kok digituin… Tapi Mbak Tri ini agak beda! Ini orang BERANI BANGET! Awalnya saya dapet kerjaan dari Mbak Tri untuk nyetting (lay out) buku The Secret of Meaningful Life… Udah tahap akhir dimana editor (Mbak Tri) akan Cek ulang di settingan tersebut… Awalnya ga ngerti ni orang ngomong apaan? Klo ga salah Mbak Tri ngomong “lo masuk qultum mau pelajarin islam ya?” (kurang lebih kaya gitu)… Awalnya saya ga ngerti? Maksudnya apa? Biasanya sih orang nanya dulu “Agama lo apaan sih? “ Setelah itu saya mikir sejenak dan dapat kesimpulan, waduh!! Saya dikira type orang yang suka nyari sela kelemahan Islam gitu! Se-type ma orang yang kristenisasi gitu!! WADUH!!! Parah bgt dan menurut gw terlalu berani ^^ bisa pecah atuh qultum klo seandainya saya ini orang Nasrani beneran ^^ hehehe… Awalnya mau saya kerjain (isengin), saya pura2 jadi orang Nasrani beneran ^^ hehehe… tapi karena Mbak Tri ini seorang AKHWAT… tanpa pikir panjang, langsung saya buang niat ngerjain orang tadi… TRAUMA BO’… hehehehe ^^v PEACE… yaaaa langsung deh saya jelasain klo saya ini islam dari kecil ^^…

Sebagai Designer, bikin cover adalah kerjaan utama… Parahnya pas awal2 masuk Qultum dapet orderan cover yang judulnya panjang bgt! Judulnya “Cara Islami mencegah dan mengobati gangguan otak, stres, dan depresi”… Haduh Panjang banget………. Tu judul malah bikin saya stres, dan depresi PLUS BINGUNG! (kayanya saya yang harus baca duluan tu buku ^^hehehe). Udah ada bayangan klo cover depan tu penuh ma judul doank ^^ hehehehe… tapi ternyata ga penuh2 bgt pas FINAL-nya^^…

Selama kerja di Qultum, cover yang paling susah dibuat adalah buku yang berjudul “Beriman Sejenak”… Hayah, klo yang ini judulnya kependekan dan susah dimengerti oleh orang seperti saya ^^… dari judulnya aja saya bingung mau dibuat kaya apa? Pusing! Atau karena saya kurang beriman ya?? ^^ hehehehe…

EDITAN PERTAMAKU




`Muthia Esfand`


Lucu sekaligus membahagiakan kalau inget pengalaman pertama kali ngedit buku di gawean yang ini. Emang siy, dulu pas jaman kuliah aku juga dah sering ngedit karena kebetulan aku join di sebuah majalah indie di Jogja sebagai editor non-fiksi, tapi tetep aja beda banget dengan kerjaan sebagai copy editor buku yang halamannya segambreng-gambreng, di dunia industri buku yang sebenarnya. Nah, waktu pertama kali masuk di Qultum, aku langsung dapet jatah ngedit buku tentang shalat tahajud. Pas pertama dikasih tau kalau penulisnya itu dosen, doktor pula, so aku merasa tenang tuh karena yakin aja gitu kalau ga bakal banyak trouble. Secara yang nulis Doktor. Tapi ternyata, hemm…..cape dey…

Ternyata, bukan Pak Dosen itu yang nulis sendiri, tapi berhubung beliau sibuk jadi kita sediain reporter untuk wawancara and ngrekam segala isi hati dan pikiran sang Dosen terkait masalah tahajud. Udah gitu, si Pak Dosen ngasih berlembar-lembar manuskrip alias tulisan tangan! Well…bayangin aja nyampe ke tangan aku dalam bentuk gimana..

Pertama kali tuh file dikasih ke aku, aku agak ga percaya aja kalau itu tulisan dosen, tapi pas dah tau story asal naskahnya dari Pak Haji aku jadi ngangguk-angguk mengerti. Ternyata ini file transkripan sang reporter. Wellcome aboard to a real book industry….

Takut banget. Sumpah. Ini kan editan pertama, jadi pasti bakal diamati dan dipantau terus. Aku berusaha mengerahkan segala ingatan mata kuliah Bahasa Indonesia I dan II plus Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra yang dulu kudapat di kampus. Ngaruh gitu? Dikit (jadi rada kesel ma dosen-dosen di kampus…ternyata bekal yg mereka beri ga seberapa! Apa akunya yg keseringan bolos ya?hehe). Stress? Iyalah…namanya juga first job, apsti berusaha sebisa mungkin untuk minus kesalahan.

Pertama, aku edit dulu secara keseluruhan ide utamanya. Trus mulai aku edit dari segi bahasa dan tanda bacanya. Terakhir mulai aku susun sistematika bukunya biar runtut dan mudah dipahami. Akhirnya jadi juga! Yah..meski pas buku dah kelar dari percetakan tetep aja masih banyak salahnya…hehe namanya juga first job (padahal ampe skarang juga masih salah-salah gtu deh..hehe..peace Pak Haji!).

Yang gak aku sangka, ga nyampe sebulan buku itu dah cetak ulang! Ajib…..temanya emang kuat siy, isinya juga menyentuh banget dan menyemangati kita untuk rajin shalat tahajud karena kebarakahan di dalam shalat itu emang bener-bener luar biasa..

Beberapa lama setelah cetakan kedua keluar, ada sepucuk surat datang dari Borneo. Seorang pegawai instansi pemerintah di sana menceritakan betapa buku “The Power of Tahajud” itu begitu menentramkan dan menginspirasinya untuk terus rajin mengamalkan shalat malam itu. Asli terharu baca suratnya. Setelah surat itu aku kirim ke penulis bukunya, akhirnya sang penulis menambahkan kisah itu pada buku cetakan ke tiga.

Ampe sekarang buku itu masih masuk daftar best seller di toko-toko buku Gramedia di indonesia. Meski ga banyak yang aku lakuin, seneng aja siy karena antusias pasar masih bagus, berarti kan semakin banyak orang yang mendapatkan ilmu dan barakah dari membaca bukunya. Kamu belum punya? Beli dunk…murah ini…hehe.

Oh ya, ada satu lagi yang buat buku ini jadi nyaman di baca, covernya bro! covernya emang bener-bener dahsyat! Sederhana memang, tapi terasa lembut dan memesona….

Ya seperti itulah…pengalaman ngedit pertamaku. Jangan bosan mampir ke blog ini ya, bakal ada cerita-cerita seri dari crew Qultum tentang pengalaman mereka di balik meja redaksi, di tengah hingar-bingar dunia perbukuan Indonesia yang perlahan tapi pasti mulai melaju pesat.

C/57--12/12/07


Selasa, 11 Desember 2007

Kisah Seekor Belalang


Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya
tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati
kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat
lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh,
padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk
tubuh ?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang
yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang
aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak
itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi
belalang lain yang hidup di alam bebas.

Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah
juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan
yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga,
seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang
membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai
mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita
tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai
mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa
Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda
mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai
sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan
untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa
yang kita alami.
Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai
apapun yang Anda ingin capai.
Sakit memang, lelah memang,
tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan
itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup
pilihan Anda.
Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan
untuk Anda.